Tentang Tahu Brintiiik

Tahu Brintiik lahir dari hasrat seorang Robert Sunarto dalam membuat suatu makanan tradisional dengan paduan citarasa modern. Maka tercetuslah ide untuk mengolah tahu sebagai makanan rumahan yang sangat akrab di lidah banyak orang dengan campuran berbagai saus. Percobaan demi percobaan terus dilakukan, namun usaha untuk menemukan menu baru tak juga membuahkan hasil. Hingga akhirnya beliau menemukan menu campuran tahu dengan saus balado yang sangat menggoda lidah. Menu tersebut kemudian dinamakan “Tahu Brintiiik”.

“Brintik” dan “Brintiiik”

Menurut Robert, “Brintik” mempunyai dua arti: Pertama, keriting kecil-kecil, layaknya tekstur rambut orang-orang di daerah timur Indonesia seperti Maluku dan Papua. Robert mendapat inspirasi tersebut saat ia berkeinginan mempunyai model rambut “brintik” di masa remajanya, namun tidak tercapai. Kedua, “rintik-rintik”, dimana pelanggan dapat merasakan sensasi keriting, “kriuk-kriuk”, dan renyah di lidah saat mengunyah Tahu Briiintik. Selain sensasi “kriuk-kriuk”, pelanggan dapat menikmati tahu yang digoreng dengan tepung bumbu spesial racikan sendiri ditambah dengan resep rahasia ciptaan Robert. Paduan keduanya membuat cita rasa Tahu Brintiiik sulit dilupakan. Kata “Brintiiik” dalam “Tahu Brintiiik” menggunakan tiga huruf “I” yang melambangkan ketiga putra-putri Robert.

Tahu Brintiiik memulai perjalanannya di Toko Buku Gramedia, Jl. Merdeka No. 43 Bandung pada tahun 2008. Tanpa diduga sebelumnya, inovasi baru ini ternyata digemari masyarakat khususnya bagi mereka yang sering melewati kawasan Gramedia, BIP, dan BEC. Tahu Brintiiik yang mempunyai Hak Paten No. D 00.2008.030338 ini pun semakin dikenal masyarakat dan menjadi buah bibir di kalangan pecinta kuliner lokal. Akibatnya, omzet harian di counter Toko Buku Gramedia pun merangkak naik dan mendorong Robert untuk membuka gerai keduanya di pertokoan Pasar Baru Trade Center, Jl. Otista No. 70 Bandung.

Serupa dengan counter pertama, gerai di pusat grosir sandang tertua di Bandung ini pun disesaki para pecinta kuliner. Dengan harga enam ribu rupiah, seseorang bisa menikmati citarasa tahu yang berbeda dan unik sesuai dengan slogannya “Menggelitik Lidah Sampai Tak Berkutik”. Menyusul kesuksesan dua gerai tersebut, Robert pun berinisiatif memperluas usahanya dengan sistem kepemilikan secara waralaba (franchise). Kini jerih payah Robert menuai hasil menggembirakan. Hingga kini terdapat lebih dari 25 gerai Tahu Brintiiik yang tersebar di seluruh Bandung, Cimahi, Cirebon, dan kawasan Jawa Barat lainnya. Hal ini membuktikan bahwa bisnis waralaba Tahu Brintiiik sangat menjanjikan dan bernilai investasi tinggi.